Iman Sebelum Islam

19 Apr 2026
Iman Sebelum Islam

Wisata Rohani

Konsep Iman Sebelum Islam - QS, Al-Baqarah: 208:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ 


Yā ayyuhallażīna āmanudkhulū fis-silmi kāffataw wa lā tattabi‘ū khuṭuwātiš-šaiṭān, innahū lakum ‘aduwwum mubīn.


Artinya: 

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu." 


Jadi konsep masuk ke dalam Islam secara keseluruhan/kaffah adalah Iman dulu yaitu :

1. Iman kepada Allah

2. Iman kepada Malaikat

3. Iman kepada Rosul

4. Iman kepada Kitab Allah

5. Iman kepada hari Akhir

6. Iman kepada Qodlo dan Qodar


Sedangkan pondasi Iman ada 3, yaitu:

1. Amanu bil Qolbu (hati)

2. Amanu bil Lisan (ucapan)

3. Amanu bil Arkhan (tindakan)

Jadi ke tiga-tiganya harus menjadi satu kesatuan dalam kehidupan, tidak bisa jika hanya satu atau dua saja yg di gunakan untuk menyakini sesuatu apalagi iman kita kepada Allah SWT.


Jadi kita tidak bisa otomatis Islam sebelum Iman. "Jangan merasa Islam sebelum Iman dulu!" Inilah syarat masuk Islam secara kaffah/keseluruhan. 


Namun fenomena diluaran banyak sekali org mengaku Iman, tetapi saat berbicara Kitabullah (Al Qur'an) banyak mengingkarinya bahkan mengabaikan apa yang ada di dalam Al Qur'an? Padahal Al Qur'an sendiri sebagai panduan untuk hidup dan kehidupan semesta termasuk manusia itu sendiri, QS, Al Baqarah:186;


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝١٨٥


syahru ramadlânalladzî unzila fîhil-qur'ânu hudal lin-nâsi wa bayyinâtim minal-hudâ wal-furqân, fa man syahida mingkumusy-syahra falyashum-h, wa mang kâna marîdlan au ‘alâ safarin fa ‘iddatum min ayyâmin ukhar, yurîdullâhu bikumul-yusra wa lâ yurîdu bikumul-‘usra wa litukmilul-‘iddata wa litukabbirullâha ‘alâ mâ hadâkum wa la‘allakum tasykurûn


Artinya:

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.


Ayat ini paling utama adalah sebagai Hudalinnas (Petunjuk manusia) bukan Hudal Mayit (Petunjuk orang mati), tentang apa? Yaitu tentang: 

Bayinati minal Huda (Menjelaskan atas petunjuk itu), menjelaskan apa? Yaitu menjelaskan tentang Al Furqon (Pembeda) yaitu antara Haq dan Bathil.


Di sinilah konsep Iman Sebelum Islam, yaitu kita harus memahami apa yang di inginkan oleh Allah kepada manusia atau hamba-hambaNya. Sehingga kita tidak salah arah (tersesat: Qhofilun).


Untuk semua para sahabat muslimin dan muslimat marilah kita kembali kejalan Allah yang Haq yaitu: QS, Ar Rum;30:



فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ۝٣٠


fa aqim waj-haka lid-dîni ḫanîfâ, fithratallâhillatî fatharan-nâsa ‘alaihâ, lâ tabdîla likhalqillâh, dzâlikad-dînul qayyimu wa lâkinna aktsaran-nâsi lâ ya‘lamûn


Artinya:

Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.


Jadi manusia harus menghadap yang lurus sesuai fitrah Allah (Aturan/Hukum/Sistem dan kehendak Allah) yaitu yang ada di dalam Al Qur'an bagi hamba yang mau kembali sesuai FitrahNya.


Jadi setelah kita semua tahu dan paham keinginan Allah SWT di dalam Al Qur'an maka kita bisa masuk ke dalam Islam secara Kaffah. Semoga Tausyiah ini bisa menghantarkan kita semua menjadi diri kita semakin yakin/Iman 100% terhadap firmanNya yaitu ayat-ayatNya.

Wassalamualaikum wr.wb (*)